Senin, 27 Desember 2010

KENAPA SHOLAT HARUS MEMAKAI BAHASA ARAB.??

Gagasan untuk mengubah
bacaan shalat dan Al-
Qur'an ke dalam bahasa
lokal sebenarnya sudah
didengungkan sejak
dahulu, dengan bantuan
intensif dari kerajaan
media massa Yahudi.
Pelopornya adalah para
pemimpin Turki yang
meruntuhkan
kekhalifahan Utsmaniyah.
Salah satu 'karya' mereka
adalah dengan
dilantunkannya adzan
dalam bahasa lokal, yaitu
bahasa Turki. Menurut
kaum nasionalis, kalau
masih menggunakan
bahasa non-Turki, maka
kesannya tidak cinta
tanah air.
Pertanyaan yang harus
diajukan adalah :
"Mengapa harus bahasa
Arab?". Kalau belum bisa
menjawabnya, bolehlah
mengubah pertanyaan ini
menjadi : "Apa yang akan
terjadi kalau diganti ke
dalam bahasa lain?".
Kalau ada yang bilang
bahwa semua bahasa itu
sama, maka orang itu
pasti mendapat nilai
kurang dalam bahasa
Inggris (atau bahasa
asing lainnya). Semua
orang yang menguasai
dua bahasa atau lebih
pasti tahu persis bahwa
setiap bahasa memiliki
karakternya masing-
masing, sebagaimana
setiap bangsa pun
memiliki karakternya
masing-masing. Bahkan di
antara dua suku yang
berbeda di negara yang
sama pun memiliki
karakter yang berbeda-
beda.
Perbedaan yang paling
mencolok adalah pada
proses penyusunan
kalimatnya. Bahasa
Inggris disusun dalam
berbagai tenses. Cara
kita merangkai kalimat
yang menggambarkan
kejadian di masa lalu
berbeda dengan kejadian
yang terjadi setiap hari.
Dalam bahasa Indonesia,
keterangan mengenai
waktu cukup ditunjukkan
dengan beberapa kata
tambahan saja. Misalnya,
untuk menceritakan
kejadian kemarin, kita
tinggal menyisipkan kata
"kemarin" pada tempat
yang cocok. Predikatnya
sendiri tidak berubah
sedikit pun.
Bahasa Perancis memiliki
tabiat yang berbeda.
Setiap benda memiliki
sifat yang 'feminin' dan
'maskulin'. Kata-kata
yang 'feminin'
diperlakukan berbeda
dengan kata-kata yang
bersifat 'maskulin'.
Perbedaan status ini
menyebabkan terjadinya
perubahan dalam
kalimat.
Perbedaan lain yang
cukup jelas adalah pada
ragam kata dalam
bahasa. Terkadang suatu
kata dalam bahasa
tertentu tidak bisa
dengan mudah
diterjemahkan ke dalam
bahasa lain. Kata
"accept" dan "receive"
dalam bahasa Inggris
sama-sama
diterjemahkan sebagai
"menerima" dalam
bahasa Indonesia.
Kenyataannya, kedua
kata ini jelas berbeda.
1. I accepted the
invitation.
2. I received the
invitation.
Pada kalimat pertama,
artinya adalah "Saya
menerima dengan senang
hati undangan tersebut
dan kemungkinan besar
akan hadir." Kalimat
kedua - yang
menggunakan kata
"receive" - bermakna
"Saya telah menerima
surat undangan
tersebut." Masalah surat
tersebut diterima dengan
senang hati atau dengan
bersungut-sungut sama
sekali tidak terlihat dari
kalimat ini. Kalimat ini
juga bersifat netral tanpa
menunjukkan keputusan
si penerima surat
undangan, apakah akan
menghadiri undangan
tersebut atau tidak.
Perbedaan satu kata saja
bisa mengakibatkan
banyak perbedaan. Inilah
perbedaan yang amat
mencolok antara sistem
bahasa Inggris dengan
sistem bahasa Indonesia.
Bagaimana dengan
bahasa Arab?
Bahasa Arab bahkan lebih
rumit lagi. Dalam bahasa
Arab, dikenal sistem
tunggal, ganda dan
jamak. Selain itu, subjek
laki-laki, perempuan atau
kumpulan dari laki-laki
dan perempuan juga
dibedakan. Dalam bahasa
Indonesia, kita akan
temui sistem sebagai
berikut :
1. Saya
2. Kamu
3. Dia
4. Kita
5.Kami
6. Kalian
7.Mereka
Dalam bahasa Arab,
sistem yang muncul akan
lebih rumit lagi karena
adanya aturan-aturan di
atas. Sistem tersebut
adalah sebagai berikut :
1. "Ana" ---> Saya
2."Anta" ---> Kamu
(untuk laki-laki)
3."Anti" ---> Kamu (untuk
perempuan)
4."Huwa" ---> Dia (untuk
laki-laki)
5."Hiya" ---> Dia (untuk
perempuan)
6. "Antum" ---> Kalian
(untuk laki-laki)
7."Antunna" ---> Kalian
(untuk perempuan)
8. dan seterusnya...
Jadi, kalau kita jumpai
kata "kalian" dalam
bahasa Arab, belum tentu
hal tersebut merujuk
pada subjek yang sama.
Kita perlu meneliti
pilihan katanya. Apakah
dia bermaksud merujuk
pada sekumpulan orang
laki-laki ataukah
perempuan?
Contoh lain adalah pada
kata-kata "Rabb" dan
"Ilaah". Keduanya sama-
sama diterjemahkan
sebagai kata "Tuhan"
dalam bahasa Indonesia.
Pada kenyataannya,
penerjemahan seperti ini
sangatlah tidak tepat.
Meskipun "Rabb" dan
"Ilaah" memang sama-
sama merujuk pada Allah
SWT, namun kesan yang
disampaikannya sangat
berbeda. Kata "Rabb"
bermakna "pemelihara,
pendidik, pembangun"
dan segala hal yang
bermakna kasih sayang
dan peningkatan. Kata
"Ilaah" memiliki makna
yang sama sekali
berbeda, yaitu
menggambarkan
absolutisme kekuasaan
Allah. Kata ini bermakna
"yang diharapkan, yang
dicintai, yang ditakuti
dan yang ditaati".
Dengan menyebut kata
"Ilaah", kesan yang
didapat adalah
ketergantungan manusia
kepada-Nya.
Pemakaian kata "Rabb"
dan "Ilaah" pun jelas
berbeda. "Alhamdulillaahi
rabbil 'aalamiin" artinya
"Segala puji bagi Allah,
Rabb seluruh alam".
Kalimat ini adalah
kalimat pujian, sebuah
ungkapan takjub atas
keindahan perbuatan
Allah, sekaligus rasa
terima kasih dari hati
yang terdalam atas
segala kebaikan yang
telah Allah berikan.
Kalimat ini jelas cocok
bila menggunakan kata
"Rabb", karena sesuai
dengan maknanya. Di sisi
lain, ketika menyatakan
keislamannya, setiap
orang diwajibkan
mengucapkan
"Asyhaduan laa ilaaha
illallaah.." yang artinya
"Aku bersaksi
bahwasanya tiada Ilaah
selain Allah". Pengakuan
keislaman seseorang
tentu diucapkan dengan
sebuah kebanggaan dan
keyakinan yang amat
tinggi atas kebenaran
kata-katanya. Secara
tegas, ia menyatakan
bahwa tidak ada lagi
sandaran hidupnya
kecuali Allah. Karena itu,
digunakanlah kata
"Ilaah", karena memang
pas dengan kesan yang
dimunculkan oleh kalimat
ini.
Keputusan Allah untuk
menurunkan Al-Qur'an
dengan satu bahasa saja
sangatlah tepat, dan
keputusan-Nya untuk
memilih bahasa Arab
sebagai bahasa Al-Qur'an
pun sangat tepat. Kalau
Al-Qur'an bebas ditulis
dalam segala bahasa,
maka akan terjadi
kebingungan, karena
bagaimana pun, setiap
bahasa berbeda-beda
tabiatnya walaupun
ketika menggambarkan
sebuah hal yang sama.
Meski demikian, bukan
berarti Al-Qur'an tidak
boleh diterjemahkan.
Terjemahan Al-Qur'an
jelas dibutuhkan oleh
orang-orang awam yang
belum menguasai bahasa
Arab. Tapi harus diingat
bahwa yang disebut Al-
Qur'an adalah wahyu
Allah yang diturunkan
dalam bahasa Arab,
bukan terjemahannya.
maka jelas bahwa
masalah yang terjadi
adalah karena tidak
memahami bahasa Arab.
Karena ia tidak
memahami bahasa Arab,
lantas seluruh shalat
harus diucapkan dalam
bahasa Indonesia. Buruk
muka, cermin pun
dibelah. Diri sendiri yang
kekurangan, mengapa
sistem yang harus
diubah? Kalau kita tidak
bisa membaca, apakah
orang lain tidak boleh
menulis? Ini bukanlah
sikap seorang Muslim
sejati. Kalau kita
menyadari kekurangan
diri sendiri, maka kita
harus memperbaikinya.
Sangatlah tidak
beralasan jika dikatakan
bahwa ia tidak mengerti
arti dari bacaan
shalatnya. disinilah
dituntut kita untuk
mempelajarinya.
Bagaimanakah nasib
kitab Bible yang disalin
secara bebas ke dalam
berbagai bahasa? Adakah
perubahan makna terjadi
dalam proses penyalinan
tersebut? Entahlah. Saya
rasa mereka lebih tahu.
13 September jam 15:10 ·
Suka · Hapus
Tanya Jawab Masalah
Islam “Bacalah dengan
(menyebut) nama
Rabbmu Yang
menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia
dengan segumpal darah.
Bacalah, dan Rabbmulah
Yang Paling Pemurah,
Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan
kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya ” (Qs.
Al-Alaq 1-5).
Jika dikritisi secara jujur,
sebenarnya wahyu Allah
yang diturunkan pertama
kali kepada Nabi Muham­ ­
mad adalah surat Al-‘Alaq
1-5 yang diawali dengan
perintah “iqra” (bacalah).
Karena Rasulullah itu
ummi (buta huruf), maka
beliau menjawab, “ma
ana bi qari” (aku tidak
bisa membaca).
Wahyu pertama di gua
Hira ini telah diramalkan
jauh sebelumnya dalam
kitab-kitab suci
terdahulu.
“Dan apabila kitab itu
diberikan kepada seorang
yang tidak dapat
membaca dengan
mengatakan: “Baiklah
baca ini,” maka ia akan
menjawab: “Aku tidak
dapat membaca” (Yesaya
29: 12).
Ramalan tentang
“ seorang yang tidak
dapat membaca” pada
ayat tersebut sangat
tepat bila ditujukan
kepada Nabi Muhammad,
karena beliau adalah nabi
yang ummi (tidak bisa
membaca). Allah
menegaskan dalam Al-
Qur`an:
“ Katakanlah: Hai
manusia, sesungguhnya
aku adalah utusan Allah
kepadamu semua, yaitu
Allah yang mempunyai
kerajaan langit dan bumi;
tidak ada Ilah (yang
berhak disembah) selain
Dia, yang menghidupkan
dan yang mematikan,
maka berimanlah kamu
kepada Allah dan Rasul-
Nya, Nabi yang ummi
yang beriman kepada
Allah dan kepada
kalimat-kalimat-Nya
(kitab-kitab-Nya) dan
ikutilah dia, supaya kamu
mendapat petunjuk ” (Qs.
Al-A’raf 158).
Wahyu Allah pertama
sampai terakhir yang
disampaikan kepada Rasu­
lullah itu telah dibukukan
dalam sebuah mushaf Al-
Qur ‘an. Penataletakan
ayat-ayat Al-Qur’an itu
sendiri tidak berdasarkan
urutan turunnya wahyu.
Wahyu pertama tidak
menempati halaman
pertama Al-Qur ‘an,
karena halaman pertama
Al-Qur ’an adalah surat Al-
Fatihah. Demikian pula
wahyu terakhir Al-Qur ’an
tidak menempati
halaman terakhir Al-
Qur ‘an. Karena halaman
terakhir Al-Qur’an adalah
surat An-Nas. Penata­
letakan wahyu Allah yang
turun berangsur-angsur
ini sesuai dengan
perintah Allah SWT. Hal
ini pun sesuai dengan
ramalan kitab suci
terdahulu:
“ Sebab harus ini harus
itu, mesti begini mesti
begitu, tambah ini,
tambah itu !” Sungguh,
oleh orang-orang yang
berlogat ganjil dan oleh
orang-orang yang
berbahasa asing akan
berbicara kepada bangsa
ini ” (Yesaya 28: 10-11).
Kalimat “mesti begini
mesti begitu, tambah ini,
tambah itu ” pada ayat di
atas menunjukkan bahwa
ayat-ayat Al-Qur`an
diturunkan secara
berangsur-angsur dan
tata letaknya diatur pula
oleh Allah.
“Berlogat ganjil,”
maksudnya berlogat
(berbahasa) asing, yaitu
selain bahasa Aram atau
Ibrani, karena bahasa
yang tak asing dalam
kitab-kitab terdahulu
adalah bahasa Ibrani atau
Aram, sebab nabi-nabi
sebelum Muhammad
berasal dari kalangan
Bani Israel yang
berbahasa Ibrani atau
Aram.
Bahasa Al-Qur’an benar-
benar berlogat ganjil bagi
bani Israel. Bahkan bagi
bangsa Arab sendiri,
ketika Al-Qur ’an
diwahyukan kepada Nabi
Muhammad, orang-orang
kafir menuduh Al-Qur ’an
sebagai bahasa Ajam
(asing).
“ Dan sesungguhnya Kami
mengetahui bahwa
mereka berkata:
Sesungguhnya Al-Qur`an
itu diajarkan oleh
seorang manusia kepada­
nya (Muhammad).
Padahal bahasa orang
yang mereka tuduhkan
(bahwa) Muhammad
belajar kepadanya
bahasa Ajam, sedang Al-
Qur`an adalah dalam
bahasa Arab yang
terang ” (Qs. An-Nahl 103).
“Orang-orang yang
berbahasa asing akan
berbicara kepada bangsa
ini ” maksudnya bahasa
asing (berlogat ganjil)
yaitu bahasa Arab akan
dipakai oleh seluruh
bangsa asing (non Arab).
Terbukti, umat Muslim
seluruh dunia memakai
satu bahasa yaitu bahasa
Arab dalam berdoa dan
beribadah kepada Allah,
ketika syahadat, shalat,
haji, membaca kitab suci
Al-Qur ’an dan meng­
ucapkan salam kepada
sesama Muslim.
Bahasa Arab sebagai
persatuan umat Muslim
sedunia ini pun telah
diramalkan dalam kitab
suci terdahulu:
“ Tetapi sesudah itu Aku
akan memberikan bibir
lain kepada bangsa-
bangsa, yakni bibir yang
bersih, supaya
sekaliannya mereka
memanggil nama Tuhan,
beribadah kepada-Nya
dengan bahu-
membahu ” (Zefanya 3: 9).
Demikian hebatnya Al-
Qur ‘anul Karim, sehingga
para nabi sebelum
Muhammad SAW telah
mengenalnya melalui
nubuatan atau ramalan
dalam kitab-kitab suci
terdahulu. Pengenalan
para nabi terdahulu
terhadap Al-Qur ’an itu
sejalan dengan
pengenalan mereka
terhadap sosok Nabi
Muhammad SAW, sesuai
dengan firman Allah SWT:
“ Orang-orang (Yahudi
dan Nasrani) yang telah
Kami beri Al-Kitab
(Taurat dan Injil)
mengenal Muhammad
seperti mereka mengenal
anak-anaknya sendiri.
Dan sesungguhnya
sebagian di antara
mereka menyembunyikan
kebenaran, padahal
mereka mengetahui ” (Qs.
Al-Baqarah 146).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar